 | Let's make frens | |
WHY DO YOU HATE US?
To Malaysian Hackers, First of all, i need to emphasize that I am really really unhappy with your deed of defacing tens of Indonesian websites, which then makes me wonder, what is it about Indonesia you really hate? I really do not understand... Do you hate...
This beautiful scenery of Raja Ampat Papua? Or...these acehnese children? or these Balinese smiles? Or this beautiful girl? Or this poor and innocent farmer? Or her smile?
If you hate any of those, or all of them, then it's fine. Most malaysian loves em. So, for Malaysian Hackers, i am sorry for you, you are an alien, even in your own country.
I've posted many articles here about Lion Air. Yes, of course..i know you still very much remember about their big purchase of 178 new Boeing 737-900 ER. I dont think I need to repost it.
Now, this is something new. carrier LION AIR inked an MoU (Memorandum of Understanding) for 10 firm ATR 72-500 with options for 10 additional aircraft...so maybe they'll make it to 30 new aircrafts. The deal, announced on the occasion of the Indodefence Air show in Jakarta, is valued at more than US $ 380 million, including options. These aircraft will be the first new ATR 72-500s to fly the Indonesia’s skies.
 These 72-seat aircraft will be operated by LION AIR’s subsidiary WINGS AIR, and will be equipped with the “Elegance” cabin, higher power rated PW 127M engines and the latest technological innovations in navigation aid and communications tools. Aircraft deliveries will start in 2009. Fly fly fly higher, my Lion. Sssssssttt....be ON TIME, pls. |
 Namanya Aisya Rabbanea Zahra, anak saya yang pertama..lahir di Singapura, setahun sesudah terpilihnya presiden baru Indonesia dan Tsunami Aceh, 6 tahun sesudah pergantian millenium, 8 tahun sejak reformasi, 5 tahun sesudah perang US-Taliban, 3 tahun setelah US menginvasi Iraq. Aisya lahir bukan di masa masa yang penuh damai, dia lahir ketika Indonesia sedang tidak nyaman, sedang banyak demo, harga harga naik, dunia sedang kacau, minyak naik, perang dimana mana, terorisme pun menggejala. Aisya lahir ketika Indonesia tengah menapakkan kaki setelah sekian tahun terkulai lemas dan hampir pingsan.
Di sisi lain, era ini juga ditandai dengan semakin meningkatnya kekayaan orang orang dan bangsa bangsa, tidak ada lain blok barat dan timur, tidak ada lagi ancaman nuklir, makin banyak negara2 yang bekerja keras di masa lalu, menikmati hasilnya masa kini.
Singapore
Inilah eranya Singapore...siapa yang menyangka negara yang miskin, nggak punya sumber air, nggak punya sumber daya, bisa menjadi salah satu negara paling kaya di dunia? Dengan penduduk hanya sekitar 4 juta tapi menghasilkan GDP yang menyamai negara dengan penduduk 20 kali lipat. Inilah eranya Bostwana, negeri di Afrika yang bahkan tidak mempunyai pantai, mampu bangkit dengan pendapatan perkapita $ 80 per tahun setelah kemerdekaan, menjadi $ 6,600 sekarang ini, dan obligasinya dihargai lebih tinggi dari obligasi Jepang. Inilah era dimana seseorang mampu memperoleh penghasilan, melebihi penghasilan sebuah negara..lihat saya Warren Bufet, atau Bill Gates. Inilah era dimana sebuah perusahaan penerbangan, bisa berinvestasi melebihi cadangan devisa sebuah negara. Lihatlah Lion Air di Indonesia. Inilah eranya Senzhen di China, sebuah kota yang dulunya hanya berpenduduk 200,000, hanya dalam waktu 20 tahun, menjadi megacity dengan penduduk lebih dari 10 juta, dan dengan pendapatan $ 7,000 per tahun.
Lalu bagaimana dengan kita? Nenek kakek kita dulu, punya alasan untuk hidup susah, karena penjajahan dan kolonialisme, serta peperangan tanpa henti. Maaf, generasi kita saat ini, tidak ada alasan itu...sama sekali tidak. Ada yang berasalan, Indonesia sudah terlalu rusak oleh korupsi....ya Allah, dibandingkan dengan China 15 tahun lalu, kita belum apa apa. Sekarang...liatlah China. Ada yang bilang, energi kita habis di jaman perang....lihat Jerman, Jepang, dan Korea....negara mereka hancur lebur dilanda perang, 15% penduduknya mati... sekarang, liatlah mereka. MAri....optimis !!
Jangan percaya orang orang pesimis yang bertingkah sok tau dan sok penting, jangan percaya TV TV kita yang selalu menyiarkan berita buruk tentang negeri ini. PERCAYALAH pada contoh2 yang saya kemukakan di atas...bahwa, sebuah bangsa bisa MAJU HANYA dalam kurun SATU generasi saja...ya, SATU generasi. Kita bisa meningkatkan GDP kita 10 x lipat, memberantas korupsi, menjadi 5 besar ekonomi dunia, menjadi kebanggan Asia, menjadi tumpuan negara negara lain hanya dalam tempo 30 tahun. Nggak percaya? Lihatlah CHINA !! Kita bisa bangkita dari puing puing sekarang ini, menjadi kekuatan yang disegani...lihatlah Jepang, atau Korea. Kita juga bisa mulus menyusun demokrasi, lihatlah Cambodia.
Tapi...kebalikannya juga berlaku, kita bisa MENGHANCURLEBURKAN negeri ini hanya dalam kurang dari 1 generasi....lihatlah Pakistan, Afghanistan, lihatlah Rwanda...! Pelajari kehebatan mereka dulu, dan lihatlah mereka sekarang.
Ingatlah kawan kawanku, bangsa Indonesia. MASA DEPAN KITA ada ditangan orang yang saat ini optimis dan bekerja, bukan orang yang pesimis dan suka mengolok2, masa depan kita ada ditangan orang yang cinta negaranya, bukan orang yang cinta negara lain, masa depan kita, ada di depan kita, dan BUKAN ditentukan oleh masa lalu kita.
Kondisi Indonesia di era Aisya Aisya kita nanti, pasti berbeda dengan era kita...tergantung pada kita sekarang, apakah BERBEDA bermakna jauh lebih baik, atau SAMA SAJA, atau LEBIH BURUK? Sekali lagi...tanggung jawab menjadikan masa depan anak anak kita ada di pundak kita, ada di otak kita, ada di hati kita, ada di tangan tangan kita.... Mari saudaraku...berhenti berdebat, berhenti bicara, mari membangun bangsa....
 Boeing 737-800NG, Garuda bought 50 of this kind. After many years (well, it's only FIVE, not so many) of restructuring, Garuda is finally entering the ideal shape on an airline to start the expansion plan. Now Garuda Indonesia is planning to add new network expansion, inflight service (including creating an indonesian-styled executive class..with batik, perhaps). Please put in mind, when Garuda was down because of mismanagement, other airlines just went on upgrading and expanding. At least, Garuda is way better than BA or Alitalia, or Aeroflot, or Varig, or....aah....we are better than soooo many things, no worry. Just to remind you, last year, when airlines in the region (southeat asia) were plunging into an ocean of financial loss, Garuda succesfully book a net profit of US$ 28 million, and expects to double this year. Garuda will also receive eleven (11 from its 50 orders) its brand new Boeing 737-800NG ( do not get mixed with Lion Air's Boeing 737-900 ER, they're two different aircrafts) next year, adding 12 new domestic routes, and of course international ones (flying from cities like Surabaya, Medan, or Makassar, or Lombok...hey, lombok airport will be a boutique airport..yippeee).
Garuda Indonesia with Boeing 777-300
Oh yes, Garuda will resume flights to Europe in 2010 (you better keep your promise) when the TEN...(yes ten)Boeing 777 Long Range received. Garuda also prepares for premium services on ground and onboard, by installing new kinda video for each seat for economy, business, and premium class. Airbus A330 will also be retrofitted with new seats and individual videos. Ground services are also under review with exclusive services in preparation for premium passengers.
Soon, Garuda Indonesia logo will be put inside the alliance Announcement of Garuda’s integrating in the near future into the Skyteam alliance by both Air France and Korean Air executive, are put back in perspective. It is true that Skyteam lacks a partner in Southeast Asia, Garuda will be the pioneer. WELCOME ABOARD, EVERYONE. Bram, thanks for the enlightement. I just realized that in there are already several low cost airlines (not so low actually, i would say a short-haul-routed airlines) operating in Australia, namely Virgin, JetStar, Tiger Airways, and now...Lion Air is eyeing the market by the end of 2008. Sigh...what a competitive and tight market. It's not going to be easy to enter and champion the competition, not to mention the plan of Mandala to fly directly Jakarta-Perth next year, and Air Asia X to Melbourne and ...er...Perth (?). Be tough, Lion Air, be on-time, be safe, be more efficient. These are your competitor. 
Tiger Airways, with Airbus A-319 Virgin Blue, with Embraer-170
Jetstar Airbus A320-200

Lion Air, with Boeing 737-900ER  The new Boeing 737-900ER, Lion Air. Australian flyers looking for bargains may soon have another option, with Indonesian player Lion Air the latest low-cost carrier planning to move into the crowded Australian market. Lion Air will be based in Queensland (Brisbane) to operate in Australia serving domestic route, bringing in six newly bought Boeing 737-900ER. Probably, Lion Air is the one and only foreign airline flying domestically in Australia. Congrats !  Mampukah Asia keluar dari krisis global saat ini? Berita berita cukup heboh di Indonesia, di luar negeri nggak jauh beda. Saya baru kembali dari Singapore dan negeri kecil yang hebat itu pun tak bisa menyembunyikan "ketakutannya". Bagi saya pribadi, saham saham yang harganya berjatuhan, nggak akan bisa menyamai paniknya saya kalau mata uang kita, Rupiah, juga meluncur bebas seperti 10 tahun lalu..sungguh tak terbayangkan. Banyak yang "menyuruh" saya menulis tentang mata uang Rupiah, gimana caranya agar stabil, gimana agar nilainya naik, gimana agar setara dengan (paling nggak) Yen, etc. Tapi.....berat menulis itu di tengah memburuknya kinerja mata uang kita minggu minggu ini, toh website ini untuk memberitakan "yang baik baik" saja bukan? Ide saya kali ini bukan ide baru, tapi kelihatan mustahil...nggak apa apa...berandai andai boleh, mimpi boleh, pesimis nggak boleh. (go to hell, Pessimist people! ). Ide saya adalah, membentuk mata uang bersama di kawasan regional Asia Pasifik, yang tidak hanya berisi ASEAN, tapi juga Jepang, India, China, negara2 Asia tengah, dan timur tengah. Tentu sulit, karena saat ini saja, nilai mata uang masing masing negara saling bertolak belakang, neraca perdagangan belum seimbang antar negara, stabilitas politik kawasan yang belum memadai, terutama di kawasan Asia Selatan, dan tentu saja, tingkat fondasi ekonomi dan moneter yang sangat tidak seimbang. Selain itu, nasionalisme asia, masih begitu kuat di masing masing negara..China masih memendam "dendam" pada Jepang, begitu juga Korea, mereka secara politis belum memaafkan Jepang, lalu persaingan dua tetangga Malaysia dengan Singapore, atau ketegangan yang sering terjadi antara Indonesia dengan Malaysia, dll. Kondisi kondisi di atas tentu mempersulit kita meniru Uni Eropa, yang notabene dari dulu ekonominya cukup stabil, dengan cadangan kekayaan yang memadai, sehingga mempermudah integrasi ekonomi ke dalam satu kebijakan tunggal yang keren dan kuat. Tapi, baiklah....sekali lagi, ini mimpi.... dasarnya mirip dengan setup mata uang Euro, namun lebih revolusioner karena latar belakangnya adalah "pemberontakan" nilai tukar dimana mata uang dolar sedapat mungkin dihindarkan dalam seluruh transaksi di Asia. Hal ini akan menjatuhkan nilai tukar dolar dalam perdagangan valas dunia. Dan kita coba lihat apakah "Green Span Effect" yang heboh itu masih bisa menahan kedigjayaan perekonomian Amerika. Tak pelak lagi, mata uang bersama Asia Raya akan menaikkan suku bunga di Amerika secara drastis, mungkin yang paling drastis dari yang pernah ada. Jika ini terjadi, Amerika akan mengalami apa yang dialami rakyat Asia Tenggara sejak tahun 1997 . Mata uang bersama ini nantinya akan memakai nilai mata uang terkuat di Asia (Yen) yang disesuaikan terhadap mata uang yang dipakai paling banyak di dunia, yakni Rupee, Yuan, dan Rupiah. Tentu saja yang disesuaikan adalah nilainya, bukan denominasinya...(keluarga saya di singapura sering protes ttg banyaknya angka di rupiah kita hahaha). Jepang, India, China, dan Indonesia mempelopori pembentukan mata uang bersama, perlahan lahan, timur tengah yang kaya minyak (dan uang) akan melirik dan tertarik untuk bergabung. Bergabungnya negara negara di arab akan menjadi fuel yang besar dan lokomotif yang menarik. Malaysia, Singapore, Korea, Filipina, dan negara 2 yang secara ekonomi pro-barat, nggak bakal enggak pasti ikutan gabung....bisa gila mereka kalau terus terusan mempertahankan mata uang 'lamanya'. Mata uang baru ini akan menjadi mata uang baru di pasar finansial, dengan nilai yang kuat dan dukungan cadangan yang kuat, tentu mudah membentuk pasar uang yang kuat, dan pemain pemain finansial akan tertarik bertransaksi. Kalau udah gitu, dollar AS yang seringkali membuat dunia kalang kabut, akan makin nggak bernilai. (hehehehe...sorry, uncle sam..), karena hal ini akan menarik kita ke zero sum game, tarik menarik, dollar naik, mata uang tunggal asia turun, dan begitu sebaliknya. Pengalaman euro, toh dollar terjungkal juga.  Tentunya ide sederhana untuk membuat mata uang bersama Asia Raya ini tidak mudah implementasinya. Resiko blokade ekonomi negara importir produk-produk utama Asia perlu diperhitungkan. Demikian pula membuat kesepakatan antar negara Asia sendiri tidak mudah. Jepang tentu saja mau dijadikan patokan, karena akan menguntungkan perekonomian negaranya secara mutlak di dunia. India, Cina, dan Indonesia yang berpenduduk besar tentu menginginkan aspek penguatan nilai tukar lokalnya. Namun negara-negara berwilayah kecil dan berpenduduk sedikit dengan sumber daya alam terbatas seperti Singapura dan Jepang harus mempertimbangkan "daya dukung" sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia, Cina, dan India yang besar. Daya dukung sumber daya alam dan SDM yang besar ini diperlukan sebagai "penyangga pasar" Asia jika Amerika dan sekutu ekonominya memblokade ekonomi Asia. Dengan menguatnya nilai tukar, termasuk rupiah, maka akan memperkuat daya beli masyarakat, dan menjadikan barang barang yang sebelumnya mahal menjad "murah" karena nilai uang yang naik, bukan harga barang yang turun. (heheh...bisa keluar negeri tiap minggu...) Utang negara inipun, akan lebih cepet selesai, karena nilai utangnya sendiri turun... Blokade ekonomi tentu akan terjadi, namun apalah artinya blokade amerika dan eropa, menghadapi bangsa bangsa asia yang bersatu, dan kompak? Boleh blokade...tapi mereka akan rugi sendiri. Toh bangsa asia sebenarnya sudah mampu mencukupi kebutuhan sendiri, beras dan makanan ada di asia, energi (minyak dan gas) bisa dengan mudah di suplai arab dan indonesia, tenaga kerja melimpah, laut melimpah... Gimana?  Get ready ! It's nature-friendly It's very economical ( 1 litre for 30 km) It's MADE IN INDONESIA (not only changing the brand) It's only $ 4,500 per unit It's produced by PT INKA Ladies and Gentlements.... IT's GEA Note : GEA means Gulirkan Energi Alternatif --> Making Alternative Energy Rolls ! I myself dont know, I love airline industry so much, since I was a child. I can still clearly remember when I was still very small, living in a remote village somewhere in Northern Yogyakarta, everytime an airplane passed by in the sky, I waved to it and called my uncle's name so loud. I never imagined someday, 20 years later, part of my job is 'travelling' with airplane, to many spots of the world. So, bear with me, I'll post some more articles about airlines, airplanes, pictures of aircrafts, etc. Please deal with that, will you?
Okay, I found these pictures some minutes ago here which really attracted me coz i've never seen my beloved Garuda Indonesia with these liveries. Check out, I just luuuuuuurve em.  Is it Boeing 777-300? I am not sure. Can anyone tell me?  This is surely Boeing 747-400  This is Boeing 777-400, I think
 Garuda standard paint. Probably, one day Garuda needs to paint their fleets with Batik relief. What do you think? PAGI itu saya dan istri bangun kesiangan, sehingga kami menjadi penumpang terakhir yang melakukan check-in di perusahaan penerbangan Garuda di Melbourne. Karena itu saya tidak punya bayangan seberapa padat pesawat yang akan saya naiki. Sebagai penumpang terakhir, saya melewati aerobridge yang sebenarnya untuk kelas bisnis, meskipun tiket saya kelas ekonomi. Yang membuat saya tertegun adalah di kelas bisnis tersebut pesawat Garuda kita penuh dengan penumpang, dan sebagian besar penumpang asing. Begitu saya menyusuri lorong menuju kelas ekonomi, saya semakin heran karena kelas ini pun dipadati penumpang. Rasanya penerbangan pagi itu, tanggal 24 Agustus 2008, tingkat kepadatan penumpang GA 719 hampir mencapai 100%, suatu prestasi tersendiri. Saya terbiasa berada di tengah-tengah warga Indonesia jika saya mengendarai pesawat Garuda. Tetapi dalam penerbangan ini saya dan istri sungguh menjadi minoritas. Sebagian terbesar penumpang adalah warga negara Australia yang tampaknya hendak mengisi waktu mereka berlibur ke Bali. Pesawat Airbus A 330-300 dalam konfigurasi Garuda memuat 293 penumpang bisnis dan ekonomi.  Garuda Indonesia Airbus 330-300 Jika 90% dari penumpang adalah warga negara Australia, maka dalam satu penerbangan itu saja Garuda sudah menyumbangkan wisatawan sebanyak sekitar 250 orang, suatu jumlah yang mampu mengisi hotel kelas sedang. Rasanya sangat tebal di pikiran kita bahwa perusahaan penerbangan BUMN kita, yaitu Garuda, adalah perusahaan penerbangan yang hanya laku di pasar domestik saja. Begitu perusahaan tersebut melangkah ke luar negeri, otomatis pesawatnya akan banyak kosong sehingga tidak menghasilkan keuntungan yang diharapkan, bahkan mengalami kerugian. Karena itu pemandangan yang saya alami sendiri tersebut merupakan suatu bukti konkret dari upaya perusahaan penerbangan kita dalam menjaring pasar yang lebih luas dari sekadar pasar domestik. Perbandingan ini akan menjadi lebih lengkap kalau saya bisa menyaksikan penerbangan Garuda di tujuan yang lain, baik ke Asia Timur maupun ke Timur Tengah. Kualitas Pelayanan dan "Generousity" Dalam penerbangan tersebut saya mengamati bahwa para awak kabin umumnya ramah dan memiliki self confidence yang tinggi. Barangkali perasaan semacam ini mereka miliki karena mereka sadar bahwa pelayanan mereka untuk memuaskan para penumpang cukup tersedia. Penerbangan dari Melbourne ke Denpasar ditempuh dalam waktu 5 jam dan 46 menit. Dalam jangka waktu yang relatif pendek itu para penumpang disuguhi makanan sampai tiga kali. Yang pertama adalah minuman dengan snack. Tidak lama kemudian penumpang dihidangi makan siang. Satu jam sebelum penerbangan berakhir, para awak kabin menyajikan minuman dengan es krim. Suatu pelayanan yang bisa dikatakan sangat memadai untuk jarak tempuh selama itu. Akan tetapi, yang menarik perhatian adalah bebasnya para penumpang meminta minuman ke awak kabin. Mereka bisa meminta satu kaleng penuh minuman dingin seperti Coca-Cola atau bahkan sekaleng bir. Saya menandai, jika permintaan cukup banyak, awak kabin kemudian menyiapkan minuman dan diedarkan kepada semua penumpang. Selebihnya, para penumpang meminta minuman ke awak kabin baik dengan memencet tombol maupun datang sendiri ke tempat minuman tersebut. Saya melihat banyak penumpang yang meminta bir dan tidak hanya sekali saja. Ini berarti ada sikap "generous" yang dikembangkan oleh perusahaan penerbangan kita dan tidak membatasi jumlah permintaan dari pelanggannya. Dalam pembicaraan saya dengan awak kabin terungkap bahwa Garuda memang menyiapkan minuman dalam jumlah yang sangat memadai. Untuk Bir Bintang saja, jumlah yang mereka bawa sangat mungkin untuk memenuhi permintaan seluruh penumpang. Karena banyak yang tidak minum bir, muncul kesempatan bagi penumpang untuk meminta minuman tersebut lebih dari satu kaleng. Awak kabin akan membatasi pemberian bir agar para penumpang tidak mabuk, bukan karena kebijakan untuk menghemat. Pada saat saya berjalan-jalan di koridor dek belakang, terasa betul suasana liburan sudah terbangun di pesawat tersebut. Mereka bergerombol dan bercerita secara meriah, sedangkan di tangan mereka ada sekaleng Bir Bintang. Suasana ini sungguh menarik dalam membangun suasana yang lebih intens pada saat mereka nantinya berada di Bali, baik di Kuta, Ubud, maupun tempat-tempat lain. Suasana semacam ini mampu dibangun oleh awak kabin Garuda dengan baik, sehingga pada akhirnya terbangun suatu "komunitas" di pesawat itu. Rasanya penciptaan suasana semacam ini sangat efektif dalam pemasaran perusahaan penerbangan ini dari mulut ke mulut. Para penumpang yang terpuaskan pasti akan bercerita betapa penerbangan mereka dengan Garuda merupakan suatu pengalaman yang indah. Membangun Garuda yang Semakin Kuat Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengamati perkembangan usaha perusahaan penerbangan pelat merah ini. Dari sebuah perusahaan penerbangan yang senantiasa dirundung rugi dan dikejar "debt collector", Garuda mulai menunjukkan kebangkitan yang menarik. Laporan keuangan perusahaan menghasilkan laba yang semakin lama semakin besar. Perubahan itu terjadi hanya dalam hitungan beberapa tahun saja. Bahkan pada saat perusahaan penerbangan global lain diimpit kerugian maupun penurunan keuntungan karena naiknya harga bahan bakar, Garuda justru menunjukkan daya tahannya. Satu hal yang juga saya lihat menarik adalah strategi penetapan rute. Pontianak adalah satu kasus yang menarik. Garuda pernah menerbangi kota tersebut beberapa tahun yang lalu. Namun kemudian Garuda tampaknya mengalami persaingan tajam oleh Batavia Air dan perusahaan penerbangan swasta lain, sehingga mereka akhirnya menutup rute ini. Namun, pada 2008 terjadi perkembangan yang menarik. Awalnya mereka membuka kembali rute ke Pontianak dengan satu penerbangan. Beberapa bulan kemudian mereka tambah menjadi dua kali sehari. Terakhir mereka tambah lagi sehingga saat ini menjadi tiga penerbangan dalam satu hari. Itu semua terjadi dalam hitungan tahun yang sama. Dalam pengalaman kami terbang ke kota tersebut, jumlah penumpang Garuda cukup padat, meski harganya sedikit di atas para pesaingnya. Tampaknya Garuda mampu memunculkan diri sebagai premium airline, sehingga dengan diferensiasi harga seperti itu jumlah penumpang tidak berkurang. Saya merasa bangga terbang dengan Garuda dari Melbourne ke Denpasar. Rasanya sudah waktunya perusahaan ini menyiapkan diri untuk ekspansi lebih cepat. Penerbangan ke Pontianak yang cukup laris, misalnya, dewasa ini hanya dilayani 3 kali seminggu. Jika armada Garuda dapat diperkuat, maka kemampuan perusahaan untuk berkembang juga akan semakin besar. Kementerian BUMN rasanya sudah waktunya mendorong perusahaan ini lebih jauh sehingga sungguh menjadi kekuatan regional yang dihormati. Cyrillus Harinowo Rektor ABFII Perbanas Analysts, politician, economist, businessmen, practitioners, all say that China and India will dominate world's economy in 2020, so in the next 12 years, there will be a global change, a new milestone, a new economy, or whatever, and all refer to the gigantic rise of China and India.  My question is, really? I dont really agree with that, because : 1. Twelve years is not so long period, world will not change much within this short time. 2. Current world's giants, US and EU, will do whatever they can to preserve, or at least prolong their domination over the world by all means, military, politic, conflict management, many. Russia-Georgia war not so long ago was one of the continuous and tireless effort made by those two to put their rule on its place. 3. China and India's growth is magnificent, yes..I agree. But, their thirst of energy at one end, and shortage of world's energy resource at the other end, will push them into an unimaginable bottleneck. 4. China and India, both have huge population. In India, there are still 27% people live under $1/day, 65% with only less than $2/day. The figure will be much higher if we scale-up the poverty standard line, $3 for instance. Their standard of living, due the huge population, will be nowhere close to western standard.  Of course, world will change ! A combination of sustained high economic growth, expanding military capabilities, active promotion of high technologies, and large populations will be at the root of the expected rapid rise in economic and political power for both countries. Indonesia, Russia, and Brazil, will also be in this position. The Rise of Asia China's desire to gain "great power" status on the world stage will be reflected in its greater economic leverage over countries in the region and elsewhere as well as its steps to strengthen its military. East Asian states are adapting to the advent of a more powerful China by forging closer economic and political ties with Beijing, potentially accommodating themselves to its preferences, particularly on sensitive issues like Taiwan. Now we can see that Indonesia is moving closer to China in the past several years, and i am sure, the tie will be much closer in years to come. Malaysia, Singapore, Philippines, Thailand will surely do the same, due to their cultural similarity, and it's well-known that economy in those countries are mostly done by their chinese-blooded communities. Rising states..(?) Brazil, Indonesia, Russia, and South Africa also are on the rise to achieve economic growth, although they are unlikely to exercise the same political clout as China or India. Indonesia, in ceteris paribus, with it natural resources and huge-yet-sexy population is likely to be the economic engine in Southeast Asia, when its neighbors' economy are slowing down. It's expected that in 2-3 years to come (if the election comes smoothly), Indonesia's GDP growth will be steady at 7%-7.5% a year, same with the growth before 1997. Don't forget Russia, with their influence and power, they will do more, and it will give a significant influence to the world's economy. Experts assess that over the course of the next decade and a half Indonesia may revert to high growth of 6 to 7 percent, which along with its expected increase in its relatively large population from 226 to around 250 million would make it one of the largest developing economies. Most forecasts to 2020 and beyond continue to show higher annual growth for developing countries than for high-income ones. Countries such as China and India will be in a position to achieve higher economic growth than Europe and Japan, whose aging work forces may inhibit their growth. Given its enormous population and assuming a reasonable degree of real currency appreciation the dollar value of China's gross national product (GNP) may be the second largest in the world by 2020. For similar reasons, the value of India's output could match that of a large European country. The economies of other developing countries, such as Brazil and Indonesia, could surpass all but the largest European economies by 2020. So, there will be huge change, yet the world will not change SO much. A week ago, i met up with my old friend on my flight back to Yogyakarta. He told me that since 2005, he'd been working with one of the fastest-growing company in Indonesia, even in Southeast Asia. As a portfolio officer, he told me many things about current Indonesian macro economy condition, part of it was about the giant national companies which started to gear up for international battlefield. I was surprised when he could even give me the details and figures about this and that, coz actually he had something in common with me, "highest record for class absence"..hahaha, Kudos, dude ! Actually, Indonesian (giant) companies are ready to boost economy in the region with cross-border invasions, a strategy which has long been applied by our neighbors. In fact, those companies booked a very convincing growth during the past 3-5 years, probably among the fastest in the region, compared to companies from neighboring countries at the same size. It will easily absorb other smallers business entities in 2-3 years to come. (click for larger view) Indonesia's Top 25 Groups !Well, i couldn't agree more. This is the right timing actually..government has pledged to develop a better infrastructure starting next year, 10,000 MW of electricity is in the pipeline, 1,500 toll road is ready to roll, convincing GDP growth (6.3% last year, among the highest in ASEAN), FDI growth 23%, and of coz...the political stability. Let's go back to the time where our national companies acquired international-level companies like Lamborghini, and some European-based industries. Amazing, isnt it? Well, i am sure we'll soon be the "invader" again...soon ! Ketika India dan China masih disebut sebagai potret kemiskinan di Asia, bangsa kita sebenarnya sudah melangkah cukup jauh di depan mereka. Tahun 80's sampai 90's, Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia dengan pertumbuhan GDP sangat mengesankan, 7-8 % setahun. Terus terang, tahun tahun itu saya masih duduk di bangku SD, dan yang saya ingat adalah semua orang serasa bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Saya pernah bertemu dengan seorang Filipina di Manila, dan dia menilai bangsa bisa jadi, rakyat dan bangsa Indonesia adalah merupakan rakyat dan bangsa yang mempunyai daya tahan ekonomi terkuat di dunia. Satu pendapat yang saya sendiri ragu mengakuinya, meski bangga juga. Dia mengatakan, bahwa dengan krisis yang begitu dahsyat, bencana yang datang bertubi tubi, turbulensi politik, aksi aksi terorisme, penggerogotan oleh bangsa lain, bangsa ini tetap tegak berdiri, dan tidak jatuh terpelanting terlalu jauh. Bandingkan dengan Yugoslavia, Russia, dan bangsa bangsa lain yang terpecah karena nggak tahan banting. Tapi, tahan banting saja tidak cukup tentu saja. Kita harus mempunyai kekuatan untuk melantingkan diri kita ke atas lagi. Kalau tidak salah, kita pernah disebut sebut sebagai MACAN ASIA yang disegani, dengan keseimbangan antara FDI dengan investasi dalam negeri dan pemerintah, pembangunan yang terarah, infrasturktur yang memadai (untuk jaman itu), upah buruh yang kompetitif, hingga kestabilan politik Indonesia yang sekarang banyak dirindukan. Diakui atau tidak, banyak yang merindukan masa masa itu...banyak yang bermimpi kita menjadi MACAN ASIA lagi. Dengan kondisi sekarang ini, mungkinkah hal itu terjadi (lagi)? Jujur saja, dengan kondisi ceteris paribus, kita sedang menuju ke arah sana ! Indikasinya sederhana, politik yang relatif stabil, sumber daya alam yang melimpah, GDP yang naik significant (6.3%), Income perkapita yang makin naik ($4,100 per tahun), FDI yang terus naik (23%), Cadangan devisa yang naik ($60.6 billion) kepercayaan dunia yang mulai pulih, dan seterusnya. Kalau tidak ada halangan berarti, misalnya kejadian seperti Bom Bali, insyaa allah, macan yang sedang pulas tidur ini akan tiba tiba mengaum mengagetkan. Dan sepertinya, pemerintah mulai menyusun anggaran dan rencana belanja, serta strategy pembangunan yang lumayan baik, meski terkendala dana yang selalu kurang. Kendala ke depan memang ada, dan cukup berat (kalau mau jujur), yakni : 1. Mengentaskan 17% rakyat kita dari garus kemiskinan 2. Memberantas budaya korupsi dan ekonomi biaya tinggi 3. Mengoptimalkan peran pemerintah untuk investasi langsung, yang selama ini mengandalkan kekuatan pasar untuk membangun ekonomi. 4. membangun ketersediaan energi yang mapan (listrik), dan infrastruktur yang memadai. Poin yang ketiga rasanya yang paling mendesak, karena pemerintah seolah olah berpikir terbalik. BUMN, atau badan2 usaha bentukan pemerintah justru dijual, instead of disehatkan, dan ditambah volumenya. Menunggu swasta membentuk badan usaha hanyalah membuat kita menunggu sambil berpangku tangan. Pemerintah seharusnya menganggarkan paling tidak Rp. 100 T pada tahap pertama untuk menggarap sektor sektor yang masing neglected, potensinya besar, dan akan menyerap banyak tenaga kerja. Jawabannya jelas, sektor perkebunan dan perikanan !! Gimana caranya? Pemerintah lebih tahu, yang jelas, pemerintah yang mempunyai dana fresh harus masuk secara riil dengan membangun Badan-badan usaha riil, bukan hanya supporting party. Efek positifnya akan terasa dalam waktu cepat, terutama untuk mengentaskan orang orang dari garis kemiskinan. Poin poin yang lain sepertinya mudah untuk dicerna dan difahami. Kalau sudah seperti itu, rasanya kita akan makin mudah bermimpi. Pernah dengan Visi Indonesia 2030? Mungkin banyak yang tidak tau, karena media kita asyik menyiarkan konflik-konflik pilkada yang bikin sakit perut (SHAME ON YOU, INDO TVs). Visi ini ditopang oleh 4 pencapaian utama, yakni :  1. Masuknya Indonesia dalam 5 besar kekuatan ekonomi dunia, dengan pendapatan perkapita sekitar US$ 18 ribu dan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa. Jadi...GDP kita harus sekurangnya $ 5 trillion !!! Bisa?  2. Terwujudnya pemanfaatan kekayaan alam yang berkelanjutan, antara lain masuk dalam 10 besar tujuan pariwisata dunia dan tercapainya kemandirian dalam pemenuhan energi domestik 3. Terwujudnya kualitas hidup modern yang merata (shared growth), antara lain ditandai oleh masuknya Indonesia dalam 30 besar indeks pembangunan manusia (HDI) terbaik di dunia 4. Masuknya paling sedikit 30 perusahaan Indonesia dalam daftar Fortune 500 Companies Rasanya, seperti mimpi yaa...tapi percayalah, dengan kerja keras, dengan menghindari konflik sejauh mungkin, kita bisa menjadi Visi 2030. Apalagi, kekuatan raksasa-raksasa ekonomi dunia saat ini mulai melemah, dan bergerak secara perlahan dan pasti ke Asia, meninggalkan Amerika, dan Uni Eropa. Yang tersisa di dua benua itu nantinya adalah orang orang yang pandai berkoar koar saja.... Caranya? • Reformasi birokrasi • Peningkatan kepastian dan penegakan hukum • Reformasi sistem penerimaan dan pembiayaan negara • Reformasi sistem pertanahan dan tata ruang • Koordinasi kebijakan moneter, fiskal, dan riil • Good governance dalam perbaikan manajemen pengeluaran negara • Penguatan desentralisasi dan pembangunan ekonomi daerah • Perbaikan sistem subsidi, perlindungan sosial, perbaikan pemerataan, dan penanggulangan kemiskinan • Reformasi pasar tenaga kerja dan peningkatan produktivitas • Peningkatan mutu sumber daya manusia lewat perbaikan pendidikan dan kesehatan • Perbaikan manajemen teknologi, penelitian, pengembangan, dan inovasi • Perbaikan insentif untuk kewirausahaan dan akses bagi usaha menengah, kecil, dan mikro • Kemitraan sektor publik dan sektor swasta • Perbaikan sistem politik, keamanan, dan hukum tata negara • Perbaikan tatanan sosial budaya DUA PULUH DUA TAHUN LAGI...17 Agustus 2030....akan berhias kebanggaan, dan keajaiban ! Insyaa Allah. HAPPY 63th Birthday, my INDONESIA !! (sebagian diambil dari website Visi 2030 dari Indonesian Forum Foundation)
It's designed, assembled, and produced by Indonesians, and in Indonesia, however, its engine still uses TOYOTA engines. Why? simple....to make it marketable. It's TOYOTA KIJANG (Antelope). Millions of units have been sold nationwide, and overseas (with different names) and in India, it became the hi-class car. I am sure, there'll be more and more kijang in the future.
If u visit Indonesia, U MUST jump into our Kijang !
It's all started on June 9th 1977... The first model of Toyota Kijang, 1977. The "matchbox"
 Second model, 1980. People called it a "soap box" Super Kijang 1986 Grand Kijang 1992Kijang 1800 cc 1997-2004 --> Kijang Capsule Current status...Kijang Innova 2004
What do you know about Lion air? As far as i could remember, there are some things I know about Lion Air 1. The largest private airline in Indonesia. It bought 178 new Boeing 737-900ER at $14 billion !! crazy buy !! It's more than twice bigger from Bangladesh highest forex reserve all time! 2. The airline which planned to build their own terminal in Jakarta Int'l airport. Finally, they dropped the plan, and "let" the govt build Terminal 3 for LCCT. 3. It will operate inside some neighboring countries like Vietnam, Malaysia (based in Langkawi), Philippines, Bangladesh, India.
Brand new plane of Lion Air, Boeing 737-900 ERI was surprised that last nite they announced that they will open a direct route Jakarta Jeddah, Jakarta Riyadh, of coz it will use a wide-bodied airplanes which will be Boeing 777, and Boeing 747-400. Lion Air is indeed very expansive these last 3 years, and they also plan to buy Boeing 787 Dreamliner for US route, amid this hard situation. However, I support you, my Lion..JUst be ONTIME, ok??
 I am glad to inform you that it's confirmed that the government will built the magnificently-designed business district, integrated with limited number of settlements, green environment, and of coz economically very potential. Where the heaven is it? Sorry, Dudes...it's nowhere in our country, it's the southern of Seoul, yes..South Korea. Hardly one of Asia's most aesthetically pleasing cities, Seoul is undergoing a spectacular face-lift, with a range of multi-billion-dollar construction projects, one among those is this project...transforming a US military based which cost so much (in term of national embarrassment instead of security) into a newly-look city.. This buildings will be fully operating sometimes in 2011  | bali | Aug 6, '08 10:07 PM for everyone |
 |  | nah...nothing much |
 | Guestbook | |
 |
goboy wrote on Aug 14, '10 |
 | Ramadhan Mubarak, maaf lahir bathin....*salaman* |
 | Promo Kamera Digital Beli 2 gratis 1 cd10b4 harga mulai Rp 99.000 Tempat SOftlense Doraemon USB Doraemon Webcam Doraemon Kaos Cewe Doraemon Payung Doraemon Boneka Doraemon di WC Doraemon Negri Awan Doraemon Happy Time Lampu Doraemon Kipas USB Netbook Doraemon Dispenser Doraemon Doraemon Halloween Doraemon Sports Semuanya ada di http://www.jualandiinternet.multiply.comatau facebook http://tinyurl.com/JShopJakarta |
 | M....akna ulang tahun A....dalah K....ehidupan baru E... volusi baru
A...ktivitas baru
W..awasan baru I....de baru S..emangat baru H..appy Birthdays. |
 |   Happy B-Day 2 U Wishing U all best |
 |  Have a lovely week end! |
 | BUruan Yuuuuk BeLanja di http:/Rizqiarrayy.multiply.com.. ada...:
Bantal cinta.. Bedcover.. Sprei.. tempat tissu yg Luchu-luchu, dll MUraaaah" Lowww di tunggu order nya...!!! |
 |
siaps wrote on Nov 27, '08 Mabuhay! thank you for the invitation sir =) |
 | try this for good news from indonesia --> www.myindonesia.co.nr |
 | sbnrnya sih ga lupa, cuman lama ga tengok aza....berat isi MPnya ;)) |
 | thnx bro' but i still take a study in medical school, i can't take thats desicion and than i'm too young for make a more relationship than friendship with your friend because i still depent with my family capital Suqran==My.Bro |
 |  for adding me |
 | Halo, terima kasih sudah add....salam kenal...:) |
 | hi i really like your blog! It's great! If you put about culture and stuff...wow...! Anyway, thanks for sharing! |
| |